Showing posts with label LoC. Show all posts
Showing posts with label LoC. Show all posts

Locus of Control


Jika ingin membaca secara berurutan, silahken lanjutken.
Jika ingin mengunduh artikel ini, silahken klik ini. dan lampirannya

1. Locus of Control
2. Menyikapi Kegagalan
3. Mengukur LoC
4. Peringkat LoC
5. Simulasi 1998
6. Evaluasi
7. Simulasi Kasus
8. Dikotomi Labil Stabil

Silahken lanjutken.

1. Locus of Control


Yang dimaksud dengan Locus of Control (LoC) adalah bagaimana seseorang mengartikan sebab musabab dari suatu peristiwa. Seseorang dengan Internal LoC adalah mereka yang merasa bertanggung jawab atas kejadian2 tertentu. Hasil adalah dampak langsung dari tindakannya. Sedangkan orang dengan External LoC adalah mereka yang seringkali menyalahkan (atau bersyukur) atas keberuntungan, petaka, nasib, keadaan dirinya, atau kekuatan2 lain diluar kekuasaannya.

Tiap orang menilai kekuatan2 yang menghasilkan keberhasilan (sukses) dan kegagalan dengan sikap ber-beda2. Seorang pelamar misalnya, test kesana kemari hanya untuk ber-ulang2 tidak lolos test. Ia bisa saja menyalahkan dirinya karena kekurangannya. Ia mungkin berpikir, ah saya sarjana payah, atau jawabanmya selalu tidak diterima. Dalam keadaan ini ia menilai kegagalannya berasal dari dalam dirinya (FI).

Suatu hari, testnya berhasil. Ia mungkin saja menilai bahwa keberhasilannya bukanlah disebabkan FI, seperti intelgensianya, kemampuannya berbahasa, dll. Tetapi karena ia beruntung. Ah, demikian pikirnya, barangkali karena tidak banyak yang nglamar. Saya satu2nya yang nglamar. Jika demikian ia menyikapi kegagalannya dan keberhasilannya dengan cara berbeda. Ia menerima kegagalannya karena FI tetapi keberhasilannya karena FE. Jika demikian orang bisa punya LoC yang berbeda, baik untuk sukses maupun gagal.

Selain dikotomi internal dan eksternal, penting untuk memahami keadaan stabil & labil. Contoh, seorang alumni test dan nilainya jatuh. Karena pada saat test ia kelelahan dan konsentrasinya buyar karena ibunya masuk UGD. Jika ia test lagi dalam keadaan bugar dan ibunya baik2 saja, ia akan bisa mencetak nilai test yang bagus. Keadaan ia sedang lelah kita sebut FI sedang labil; dan ibunya di UGD sebut sebagai keadaan (FE) sedang labil yang sifatnya sementara.

Dalam meraih sukses sebaiknya kita bersandar pada stabilitas FI. Seseorang bisa diterima di Fak. Anu karena ia mampu mengerjakan test2 sehingga diterima. Jika ia menghadapi test lagi, ia akan memiliki kepercayaan bahwa keberhasilannya disebabkan karena FI. Bukan karena rezeki nomplok, keberuntungan, dll. Secara umum, pahamilah bahwa jika anda berhasil, itu karena faktor internal anda dalam keadaan bagus (stabil).

Jika menghadapi kegagalan, strategi kita harus kita modifikasi. Jika gaga, sangat wajar dan bahkan dianjurkan untuk menyikapinya sebagai keadaan FI sedang labil. Juga FE yang kurang mendukung. Contoh, seorang atlit hari itu prestasinya memble karena sedang pilek dan kakinya kesleo (FI sedang labil), ditambah lagi cuaca habis hujan, becek dan licin (FE sedang labil). Dengan demikian harga diri dan rasa percaya dirinya terlindung dengan baik. Pada lain kesempatan dimana FI stabil dan FE seperti biasanya, ia akan berprestasi.

Yang terjadi seringkali terbalik ! Ada yang menganggap keberhasilannya karena dukungan FE, misalnya karena ekonomi bagus, dll. Dan ketika ia menghadapi kegagalan, ia malahan menuduh FI sebagai biangnya, misalnya ia merasa ia goblog. Jika kegagalan itu terjadi beruntun, lama kelamaan harga diri dan rasa percaya dirinya akan ambyar sehingga ia terpuruk.

Sikap yang benar adalah menempatkan FI sebagai faktor2 yang membuat anda meraih sukses. Jika anda meraih sukses, apapun itu. Naik gaji, promosi, beli rumah, beli mobil, dll, katakan kepada anda sendiri bahwa anda memperolehnya karena FI yang anda miliki. Apakah itu, kecerdasan, karisma, ketekunan, dll yang memang milik anda. Bukan karena FE, Fx atau anugerah dari boss, mertua, atau apapun. Anda layak mendapatkan keberhasilan itu karena jerih payah anda sendiri. Karena memang anda punya kelebihan. Jikapun anda sukses karena tidak di PHK, itu bukan karena anda beruntung atau dikasihani boss tetapi memang anda tahan banting. Jika anda tiba2 mendapat peluang, bukan karena beruntung tetapi karena anda sudah mejeng memposisikan diri untuk mengembat peluang itu.

Lanjutken ke 2. Menyikapi Kegagalan

2. Menyikapi Kegagalan


Jika berhasil, sangat bijak untuk tidak mem-besar2kan FE & Fx tetapi jika anda sedang dirundung kegagalan, lebih bijak menyimak FI, FE & Fx lebih saksama. Yang disimak apa ? Stabilitas ! Bisa jadi FI kita sedang labil misalnya sakit. Atau karena FE yang sedang labil, misalnya ada huru hara. Dengan demikian bagian FI kita yang rawan, harga diri dan rasa percaya diri, akan terlindung. Sedang labil bermakna bahwa faktor2 itu bersifat sementara. Jika faktor2 itu sudah stabil, kita akan mudah bangkit lagi dan tidak gagal. Kita bisa mengerahkan FI yang lebih berdaya guna. Dengan demikian kita mampu menghadapi kegagalan ber-tubi2 tanpa menjadi terpuruk dalam lembah keputus asaan. Kita mampu memahami bahwa kegagalan yang kita derita sifatnya sementara. Dalam kata2 puitis ‘ mendung itu tidak selalu kelabu’, ‘ badai pasti berlalu ‘, ‘esok penuh harapan’, dsb. Cengeng dan klise ? Mungkin, tetapi percayalah, ini pernyataan ilmiah yang didukung dengan riset2.

Sebuah contoh. Seorang kawan saya menjadi sangat terpuruk ketika sering ditolak gadis yang ditaksirnya. Ia menarik diri dan patah hati. Hingga sekarang ia membujang. Ia dengan ‘bengisnya’ menyalahkan dirinya yang kurang pandai memikat gadis, kurang menarik, tanpa masa depan, dsb. Ia menganggap kegagalannya sebagai permanen dan ia sekarang tidak punya keberanian untuk memulai lagi.

Berbeda dengan kawan yang lain. Sambil terbahak ia misuh2, katanya si Eni méténya picek (buta) karena tidak mampu menilai dirinya yang (calon) milyarder. Juga si Sri yang méténya bèlèken, juga yang lain di-pisuh2i sebagai guoblog. Ia menimpakan kegagalannya ke gadis2 yang menampiknya. Harga diri dan rasa percaya dirinya terlindung. Di bisnis kawan saya dihantam kegagalan2 beruntun tetapi ia selalu bangkit lagi. Bangkit lagi dan bangkit lagi tanpa setitikpun kehilangan nyalinya. Kini ia membuktikan ucapannya. Ia suami yang setia dan bisnisman kaya yang santri.

Success is the ability to go from failure to failure without losing your enthusiasm.~ Sir Winston Churchill
Sukses adalah kemampuan meniti suatu kegagalan dengan kegagalan lainnya tanpa kehilangan semangat (nyali).

http://forum.belmont.edu/business/Success%20is%2099%25%20Failure%20-%20Honda.gif

Bagian yang paling rawan adalah harga diri (self esteem) dan rasa percaya diri (confidence). Kita harus melindungi bagian2 rawan ini jangan sampai hancur. Ibarat kristal, jika FI ambyar, tidak ada nilainya lagi.

Jikapun kita menyikapi keberhasilan dengan mengapresiasi FI yang stabil kita dan menimpakan kegagalan ke keadaan labil atas faktor2 (FI, FE, & Fx) penting diingat hendaknya kita senantiasa berpijak di bumi kenyataan. Jika tidak demikian

Kita akan kehilangan kesempatan mempelajari kegagalan yang tak ternilai harganya. Kegagalan seringkali ‘sekolah’ yang muahal. Kalau kita tidak memetik berkah darinya, rugi ! Failure is to begin more intellegently (Henry Ford). Kegagalan adalah untuk mulai lagi dengan lebih cerdas.

  • Membuta tulikan keterbatasan diri. Karena terlena dengan me-nyalah2kan pihak lain ia jadi ke-géèr-en.
  • Memasung daya upaya. Jika kita terlalu banyak menimpakan kesalahan pada pihak lain, kita tidak merasa punya keharusan untuk berupaya lebih keras. Atau meningkatkan pengembangan FI.


Sejauh ini kita menjabarkan bahwa sukses terletak di tiga faktor. FI, FI, dan FI. Kita sekarang juga sudah bisa menyikapi dengan bijak situasi2 jika kita meraih keberhasilan dan sikap jika kita dihantam kegagalan. Kisah direktur jadi2an adalah ilustrasi tentang labilitas FE. Bisa galak, ramah, murka, tersenyum, dsb. Selain penjabaran2 tadi, kita mendemonstrasikan pentingnya sikap (attitude) terhadap keberhasilan dan kegagalan sangat berpengaruh dalam meniti kehidupan.

Sikap adalah hal kecil yang membuat perbedaan BESAR

Mereka yang menyikapi terbalik misalnya (keberhasilan karena FE dan kegagalan karena FI), akan ambyar. Betul, banyak kasus2 bunuh diri pada remaja karena mereka (dan/atau ortunya) menimpakan kegagalan ke dirinya, terus menerus sampai ia putus asa. Ia tidak mengerti paradigma ‘labil’.

Lanjutken ke 3. Mengukur LoC

3. Test LoC


Terlampir file loc.xls. Sheet ‘sederhana’ adalah sebuah psikotest sederhana untuk memperkirakan dimana letak locus of control anda. Test ini kurang sahih (valid) tetapi cukup untuk mendapatkan gambaran. Silahkan kerjakan test diri (selftest) dengan mengisinya secara spontan dan se-jujur2nya. Ukur berapa nilai anda dan ikuti artikel2 yad.

Jika ingin yang lebih canggih, silahkan klik http://discoveryhealth.queendom.com/lc.html

Pada sheet ‘discovery’ ada terjemahan questioner2 apabila anda merasa ragu dengan questioner2 tersebut.

Berikut peringkat LoC
00-15 : Very strong external locus of control
20-35 : External locus of control
40-60 : Both external and internal locus of control
65-80 : Internal locus of control
85-100 : Very strong internal locus of control


Lanjutken ke 4. Peringkat LoC

4. Peringkat LoC


Kita sederhanakan peringkat tersebut menjadi 3

1. ELC – External Locus of Control : kurang dari 40
ELC adalah mereka yang memahami bahwa kejadian2 yang dialami lebih disebabkan oleh faktor2 diluar kendalinya. Mereka percaya bahwa tindakan2nya terdorong oleh kekuatan2 luar. Sebagai konsekuensinya ia menjadi pasifis (sangat pasip), apatis, dan punya sikap fatalistik. Ia menyerahkan dirinya kepada ‘nasib’. Kurang berinisiatif, motivasinya lemah, dan kurang berani untuk ambil resiko. Peluang untuk sukses rendah. Seandainyapun ia ‘beruntung’, tidak mudah baginya untuk mempertahankan keberuntungannya.

2. Berimbang : >=40 dan <=60
LoC berada diantara External dan Internal. Secara umum mereka menganggap bahwa sampai derajad2 tertentu mereka bisa mengendalikan dan mempengaruhi beberapa aspek kehidupan. Pada sisi yang lain mereka merasa bahwa keadaan2 yang terjadi berada diluar jangkauannya. Mereka yang lebih dekat ke angka bawah (40) lebih bersikap eksternal, kehidupannya banyak dipengaruhi faktor2 eksternal. Mereka mirip ELC, condong bersikap fatalistik dan pasip. Peluang meraih sukses tidak mudah. Mereka yang mendekati angka tinggi (60) cenderung menganggap kejadian2 yang menimpanya kebanyakan adalah karena perbuatan2nya. Mereka cenderung bertanggung jawab dan menghargai dirinya bahwa keberhasilan2 yang dicapainya adalah karena FI yang dimiliki.

Mereka ini berimbang dalam menyikapi faktor2 internal maupun eksternal.
· Sangat penting untuk menerima keterbatasan dirinya.
· Tidak kalah pentingnya untuk senantiasa berupaya semaksimal mungkin dalam menggapai keberhasilan.
· Walaupun secara umum keadaan berimbang adalah sehat, upayakan untuk menaikkan peringkat lebih ke Internal.

3. ILC
LoC berada di Internal. Mereka mengartikan bahwa hasil2 yang terjadi berasal dari FI, bisa kecerdasan, pesona, ketekunan, kekerasan kemauan, dll. Hasil adalah akibat dari tindakan2nya. Secara umum sikap ini menghasilkan
· Kemauan untuk bertanggung jawab
· Mudah dimotivasi
· berdaya juang tinggi,
· gigih,
· punya nyali bertarung dengan resiko.

Tak pelak lagi ILC memiliki peluang lebih bagus untuk meraih sukses.

Secara teknis kita bisa katakan bahwa ELC adalah ‘kurang sehat’, Berimbang adalah ‘normal’ dan ILC adalah ‘sehat’. Ini memperkuat rumus yang sudah kita jabarkan
S = S{FE(FI)+FI+Fx(FI)}

Sikap Bertanggung jawab
ILC tidak mudah menyalahkan ke faktor2 luar. Ia terbiasa memikul tanggung jawab atas peristiwa2 yang dialaminya. Kemauannya untuk bertanggung jawab terbawa keluar. Orang2 mencari mereka yang punya tanggung jawab tinggi dan ILC biasanya mendapatkan pekerjaan2 atau tugas2 yang menuntut tanggung jawab. Makin tinggi jabatan seseorang makin besar tanggung jawabnya. Tanggung jawab yang terasa berat bagi kebanyakan orang menjadi relatip enteng bagi ILC. Sebaliknya, yang bukan ILC kurang terbiasa bertanggung jawab. Mereka mudah men-cari2 kambing hitam. Atau, tanggung jawab terasa sebagai beban bagi ELC. Ini menghambatnya ke titian yang lebih tinggi.

Mudah dimotivasi
Jika mereka yang memiliki sikap Berimbang digambarkan sebagai premium, maka ILC adalah premix atau super-tt. ILC sangat responsif dengan motivasi. Mampu menghasilkan self motifvation. Sebaliknya, yang bukan ILC sering lemah motivasinya karena mereka sering menyandarkan pada nasib.

Daya juang tinggi dan gigih
Karena ia merasa bahwa nasibnya bukan ditentukan oleh faktor2 diluar dirinya, otomatis ILC memiliki daya juang yang tinggi. Ia mendapatkan segala sesuatunya dengan berupaya, bukan hanya dengan mengharap datangnya rezeki. Non ILC bersandar pada kejadian2 diluar kendalinya dan sering berpendapat buat apa repot2, nanti toh nasibnya akan ditentukan oleh faktor2 luar itu. Akibatnya daya juang non ILC memble, mudah menyerah. Sikap gigih adalah faktor penentu dalam menggapai keberhasilan. Sukses berkorelasi positip dengan kegigihan.

Punya Nyali
ILC memiliki nyali untuk ambil resiko karena ia punya keyakinan untuk mengendalikan kehidupannya. Ia berani berpindah pekerjaan, berseberangan dengan atasan, berinvestasi, mengemukakan pendapat, dst, dst. Masuk akal jika ILC punya peluang tinggi untuk meraih sukses. Sebaliknya, non ILC bersikap ‘gambling’, berjudi, dan untung2an. Jika mendapatkan keberuntungan ILC mampu mempertahankan menjadi lebih langgeng. Sebaliknya, non ILC sulit mempertahankannya. Nyali bukan hanya untuk pengusaha. Semua orang harusnya memiliki sikap ini. Semakin tinggi jabatan, makin banyak nyali dibutuhkan terutama untuk tindakan2 tidak populer seperti PHK.


Lanjutken ke 5. Simulasi

5 : Simulasi


Aplikasi menyikapi kegagalan
Pertanyaan : Untuk yang baru lulus saat itu (1998), gimana ?

Saya terpaksa menangguhkan pertanyaan tersebut karena jawabannya ada dua dan berbeda. Bagi ILC dan non ILC. Sekaligus simulasi paradigma2 yang sudah diposting.

Tahun 1998 adalah ketika FE sangat buruk. Banyak PHK, pengangguran, harga2 naik, dst, dst. Yang lulus tahun itu mengalami situasi yang tidak menguntungkan. Apa yang harus kita lakukan jika teman, tetangga, saudara, dll meminta saran kita ketika mereka dihajar kegagalan bertubi dalam mencari pekerjaan.

Bagi ILC
Orang2 ini rentan karena mereka bisa kehilangan harga diri dan kepercayaan dirinya manakala pekerjaan tak kunjung didapat atau pekerjaan yang didapat tak sesuai dengan harapan. Mereka cenderung menimpakan kegagalannya kepada dirinya dan bisa mennyebabkan luka yang mendalam dan bisa permanen.

Yang pertama kita tekankan adalah dikotomi ‘stabil’ dan ‘labil’. Situasi 1998 adalah situasi ‘labil’. Dan sangat bijak jika kita menyenandungkan ‘badai pasti berlalu’, atau ‘mendung itu tidak selalu kelabu’, atau ‘esok penuh harapan’.

Kedua, melakukan ‘externalisasi’, yaitu berupaya agar ia secara realistis menimpakan (sebagian) kegagalannya ke faktor external. Th 98 adalah bukan saja petaka nasional tetapi sudah ke level regional Asia Tenggara.

Yang ketiga, mengajak mereka untuk menyikapi kegagalan2 lebih saksama. Contoh2 :
Success is the ability to go from failure to failure without losing your enthusiasm.~ Sir Winston Churchill
Failure is to begin more intellegently.~ Henry Ford
I don't measure a man's success by how high he climbs but how high he bounces when he hits bottom.~ General George S. Patton
Do not let what you cannot do interfere with what you can do. John Wooden
Sukses adalah kemampuan beranjak dari kegagalan demi kegagalan tanpa kehilangan gairah (nyali)
Kegagalan adalah untuk memulai lagi lebih cerdas
Aku tidak menilai keberhasilan seseorang dengan mengukur berapa tinggi ia naik tetapi seberapa tinggi ia bisa memantul kembali ketika jatuh kebawah.
Jangan biarkan apa yang tidak bisa kau lakukan merecoki apa yang bisa kau lakukan.
ILC sangat mudah dimotivasi.
Tiga langkah tersebut diatas sudah cukup untuk melindungi ybs dari keterpurukan. No prablim, lah.

Non Ilc
Secara teknis sebenarnya bagian dalam mereka baik2 saja. Bahkan banyak yang menyalahgunakan situasi buruk ini sebagai ‘pembenaran’ untuk pasivismenya, pesimismenya, atau fatalismenya. Non ILC tidak mudah dimotivasi. Makin rendah LoC, makin sulit mereka didorong. Mereka perlu dorongan2 agar mau berupaya lebih keras. Ini adalah persoalan yang memusingkan direktur2 SDM. Berbagai upaya mereka lakukan untuk mendorong non ILC. Dari uang lembur, uang makan, bonus, insentif, penghargaan2, hadiah, dst, dst.

Kita tidak perlu mendendangkan lagu2 mendung itu kelabu buat mereka. Tidak ada apa2pun mereka cari2 dalih untuk me-nyalah2kan kambing hitam. Men-cari2 pembenaran supaya mereka tidak perlu bersusah payah. Menghadapi kasus seperti ini saya menyarankan solusi jangka menengah/panjang. Yaitu dengan menggeser LoC yang akan kita posting tahun depan.

Jika berhasil
Jika berhasil, baik untuk ILC maupun bukan, entah itu kecil seperti mendapat pekerjaan atau yang besar, seperti mendapat gaji gede + mertu kaya, dll, berikan kredit atau penghargaan kepada kualitas2 istimewa dalam diri anda. Entah itu pesona, kecerdasam, kegigihan, dll. Pahamilah bahwa keberhasilan anda bukanlah karena keajaiban alam, jompa jampi mbah dukun, nyai Blorong, rezeki, dll. Kita sudah membuktikan sampai ber-lembar2 bahwa keberhasilan adalah karena Faktor2 Internal anda. Karena anda yang istimewa. Camkan baik2 ini !

Biasakan menyatakan penghargaan anda kepada diri sendiri dengan hadiah2, mulai yang kecil2 sekadar ngebakso dengan yang tersayang sampai main rolet di Las Vegas, beli moge, beli buku2 bagus. Atau, kencan dengan artis ndang ndut ? (Hanya bagi yang lajang, lho). Atau melakukan/menyumbang kegiatan2 religius dan sosial
Banyak yang berdoa keliru. Misalnya mensyukuri kenaikan gajinya. Bukan, tetapi mensyukuri pengembangan FI sehingga anda bisa naik gaji ! Ini sikap kecil tetapi hasilnya sangat besar bedanya.
Batasnya adalah menjaga jangan sampai anda menjadi overconfident, terlalu percaya diri atau takabur. Sikap ini sama buruknya dengan kurang percaya diri dan rendah diri.

Lanjutken ke 6. Evaluasi LoC

6 : Evaluasi LoC


Populasi
Saya ragu ada yang mencetak score dibawah 20. Beberapa mungkin berada diantara 20-40. Jumlahnya pasti sangat sedikit. Yang terbanyak ada diantara 40-60, yang kita sebut ‘normal’. Mereka ini prestasinya biasa2 saja. Angin2an, labil. Kadang bagus, kadang kurang. Yang diatas 60 secara umum jumlahnya sedikit tetapi, saya rasa jumlahnya cukup signifikan. Diatas 80 sudah sangat jarang.

Statistik
Sebuah statistik membuktikan bahwa Business Corporate Excecutive dan elite Militer (USA) didominasi ILC dengan score rata2 65-80 dari skala 0-100. Menarik untuk dikaji bahwa bukan nilai maksimum yang jadi potensi sukses. Ini bermakna bahwa orang2 tersebut berpijak pada bumi kenyataan. Mereka mengakui adanya keterbatasan2 manusiawi. Memiliki ILC bukanlah jaminan sukses tetapi yang pasti memiliki potensi sukses lebih baik.

Yang sudah memiliki score tinggi sudah memiliki sikap yang sehat. Perlu dipahami bahwa ILC sangat rentan terhadap kegagalan yang ber-tubi2. Bagian dalamnya bisa terhajar sampai luka parah. Namun dengan menyimak artikel simulasi menyikapi kegagalan yang lalu, paling tidak anda sudah tahu bagaimana melindungi bagian yang rawan itu. Menyadari keterbatasan manusiawi bak mengenakan rompi anti peluru. Dan bersandar pada dikotomi ‘labil’ dan ‘stabil’. Mendung tak selamanya kelabu.

Mereka yang rata2 atau memiliki LoC berimbang masih punya ruang untuk meningkatkan LoC. Kabar baiknya, ada kemungkinan mereka duduk diatas harta karun ! Karena faktor2 internal mereka belum diexplorasi dan diexploitasi secara maksimal. Selama ini mereka terlalu pasip untuk mengembangkan diri. Mereka harus meningkatkan daya juangnya hingga mencapai level gigih.

Yang skorenya rendah tidak perlu berkecil hati. Peringkat bisa dinaikkan. Ini bukan masalah genetik seperti bentuk & tinggi badan, dll yang nyaris mustahil dirobah. Ini masalah attitude. Bagaimana kita menyikapi faktor2. Bagaimana kita menyikapi keberhasilan maupun kegagalan. Juga, mereka kemungkinan menyimpan FI yang masih terpendam. Sayang sekali jika potensi2 ini dibiarkan terkubur karena pembawaan fatalistik itu, bukan ?

Apapun hasilnya, apakah ILC atau non ILC, selalu kabar baik. Apakah peringkat LoC bisa berubah. Ya, bisa ! Gampangnya, ketika kita masih balita, score LoC kita pasti sangat rendah, nyaris tak berdaya terhadap faktor2 eksternal. Seiring dengan pertumbuhan usia, LoC makin naik. Kadar internal naik dan kadar eksternal turun. Sesudah ABG, terjadi perkembangan yang berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Ada yang mandeg, ada yang bertumbuh. Ada yang digempur kegagalan2 dan menjadi apatis. Ada yang diajari falsafah2 yang salah. Ada yang menuai keberhasilan2 kecil tetapi terus menerus dan LoC berkembang sehat.

Penutup
Semula saya berniat mengangkat materi Karir, Managerialship dan Enterpreneurship tetapi kemudian artikel ini bergulir ke hal2 yang lebih fundamental dan elementer. Akibatnya judul dan isinya menjadi tidak klop. Biarlah begitu. Tidak banyak manfaatnya saya mengangkat materi2 ‘intermediate’ jika ybs belum mencapai tataran ILC. Artikel ini menekankan Attitude dan Internalisasi faktor2 keberhasilan yang bisa menjadi modal awal dalam perjalanan anda mengarungi bahtera karir yang tak bertepi.

Ketika jabatan kita naik, makin banyak keputusan2 yang harus kita buat. Makin besar pula keputusan2 yang kita buat. Selain itu, makin banyak kita harus menentukan sikap. Semakin penting bagaimana kita menyikapi sesuatu. Celakanya tidak ada Fakultas Sikap. Mana ada ?

It is wise to keep in mind that neither success nor failure is ever final.~ Roger Babson

Sangat bijak untuk memahami bahwa baik keberhasilan maupun kegagalan tidak pernah final. Ingat, sukses is a journey, not destination.

Lanjutken ke 7. Dikotomi Labil & Stabil

7 : Dikotomi Labil & Stabil


Kita simak lagi surat yll sebagai studi simulasi :

... soal faktor internal, eksternal and X (saya setuju banget soal faktor X! mungkin malah X pangkat x hehehe...).

“ ... alasan saya tanya adalah, gak akan banyak gunanya (saya aliran pesimis kalo udah gini..) .. karena, untuk mengubah orang dewasa itu sulit... bisa dihitung deh dengan jari... memang ada, contohnya kakak teman saya yang berubah 180 derajat setelah membaca buku poor dad rich dad... tapi kalo mo jujur, berapa sih yang berubah seperti itu? balik lagi ke faktor internal tadi ... yaitu orang2 yang punya kualitas lebih... yang udah punya modal atau bakat lebih in their childhood.. “

Dengan observasi dari luar kita bisa menebak bahwa ybs adalah ELC. Lihat yang digaris bawahi. Ia bersandar pada faktor-x, pesimis dan skeptis terhadap artikel ini, apatis, berpendapat bahwa merobah orang dewasa sulit, dan fatalistik dengan menyatakan bahwa nasib kita sudah ditentukan sejak masa kanak2.

Pertama, jangan gegabah dulu menghakimi seseorang. Mungkin saat itu ia sedang ‘labil’. Entah sedang sakit gigi, entah sedang depresi dirundung duka, dll. Mungkin juga lingkungannya sedang labil. Jika ia mengemukakan pendapatnya dalam keadaan baik dan suasana lingkungan yang baik, maka tak salah lagi ia adalah ELC.

Jika ia ELC andapun akan sependapat dengan saya - sulit baginya untuk sukses. Apatismenya, pesimismenya, dan fatalismeya bahwa ia sudah tak bisa lagi berubah akan membuatnya terpasung dalam deraan nasib. Ia menyatakan apatismenya bahwa artikel ini tidak akan banyak gunanya. Dapatkah anda bayangkan jika ia tidak pernah membaca artikel ini ? Untunglah ia menyadari kekeliruan sikapnya. Saya berbahagia artikel ini tidak sia2. Seseorang terhindar dari perosok lubang yang lebih dalam.

Jika anda dalam kategori ‘normal’ dan membaca sampai baris ini, maka anda akan beranjak dengan sikap yang lebih benar. Karena saya mengalami dan membuktikan sendiri. Ketika kuliah tak kunjung selesai, saya mulai dirundung bete dan meragukan diri. Seorang kawan mahasiswa Psikologi iseng2 mengetest saya dan hasilnya saya adalah ELC. Ia meyakinkan saya bahwa saya (saat itu) sedang ‘labil’ dan LoC bisa digeser; dan ‘nasib’ saya akan lebih baik.

Ia tidak bohong, sekian puluh tahun kemudian, ‘nasib’ saya jauh lebih baik. Saya dulu tidak punya nyali, takut / enggan memikul tanggung jawab, mudah menyerah, fatalistik, apatis dan sulit dimotivasi, dst, dst. Prestasi tidak stabi. Kadang bagus kadang memble. Sifat berharga yang saya akuisisi dari menggeser LoC antara lain gigih, punya nyali, dan mudah memotivasi diri.

Saya ingin membagikan sekelumit pengalaman ini kepada siapa saja yang dengan tekun menyimak artikel ini.

Semoga bermanfaat.

Kembali ke halaman depan
 

Xibroto Files

Friends

About Us

Xibroto Files Copyright © 2009 BeepTheGeek is Designed by Gaganpreet Singh